20 Oktober 2021

IC Tersangka, SP Apakah Sosok Yang Tepat Mendampingi NA?

Dari kiri: SP, IC & NA.


Oleh : RICO ADI UTAMA (Pempred Persada Post)


KANCAH perpolitikan Sumatera Barat, hari ini cukup panas. Pasalnya, Indra Catri (IC), sudah ditetapkan tersangka oleh Polda Sumatera Barat atas kasus dugaan pencemaran nama baik terhadap Anggota Komisi III DPR RI, Ir. Mulyadi.

Sebagaimana yang dilansir AntaraNews.com, baru – baru ini, bahwa Polda Sumbar menetapkan Bupati Agam Indra Catri dan Sekda Agam Martias Wanto sebagai tersangka baru dalam kasus dugaan ujaran kebencian terhadap anggota DPR RI Mulyadi melalui akun facebook palsu bernama Mar Yanto.

Penetapan tersangka tersebut, disampaikan oleh Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Stefanus Satake Bayu di Padang, Selasa (11/08/2020). Penetapan tersebut, setelah dilakukan penyidikan dan mengambil keterangan saksi ahli dan labfor forensik ditemukan tersangka baru.

Jika dikaitkan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Barat 2020 ini, dimana IC akan berpasangan dengan Nasrul Abit (NA), tentu kondisi IC mempengaruhi dan menghalangi Ia untuk ikut Pilkada sebagaimana syarat dan aturan yang berlaku.

Salah satunya, tentu sulit bagi Polda Sumbar mengeluarkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) sebagai salah satu syarat dokumen pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Walaupun demikian, Jawa Pos juga pernah melansir, bahwa Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan, bupati atau kepala daerah yang berstatus tersangka masih dibolehkan mengikuti tahapan pilkada.

“Namun, bila yang bersangkutan ditahan, maka tidak lagi bisa mengikuti proses atau tahapan pilkada, dan jabatannya di pemerintahan juga diserahkan ke wakilnya,” kata Mendagri, Sabtu Tanggal 11 Juli 2020, kemarin.

Inilah nantinya masalah yang akan dihadapi oleh IC. Dan, NA seyogiyanya sedari kini tentu sudah mempersiapkan bakal pengganti IC, jika pada akhirnya IC memang ditahan.

Yang perlu diperhatikan oleh NA, sosok yang mumpuni mendampingi dirinya sebagai Wakil Gubernur dan cakap di birokrasi adalah Shadiq Pasadigoe (SP).

Sosok yang satu ini, selain pernah menjabat Bupati Tanah Datar dua periode, juga merupakan birokrat senior yang sudah terbukti hingga bertugas ke pemerintahan pusat Kemetrian PAN & RB, dimasa jabatan Asman Abnur selaku Menteri.

NA yang berasal dari daerah Pesisir Selatan, atau daerah pesisir pantai, tentu sangat pas dipasangkan dengan SP yang berasal dari Tanah Datar, atau daerah darek (baca; darat) dan juga memiliki basis masa yang kuat untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Barat 1.

Perpaduan keduanya, ibarat sejoli Romeo dan Juliet; saling mengisi dan saling menopang satu sama lain. Pun, SP bukan seorang yang neko – neko, apalagi dalam urusan pemerintahan. Sehingga, wajar saja diakhir masa tugasnya sebagai Bupati Tanah Datar, tidak ada kasus yang mencuat di pemerintahannya.

Kini, tinggal NA dan Partai Gerindra saja. Apakah tetap memperjuang IC, atau manuver dan mencari pengganti yang lebih aman dan berpeluang kemenangan seperti SP. (*)