21 Oktober 2021

IC Terkesan Tidak Punya ‘Raso Pareso’ di Depan Posko MUALIM: Mestinya Pegang Teguh Budaya Minangkabau

Leonardy Harmainy (saat menjabat Ketua DPRD Sumbar) dan Rico Adi Utama (Pemred Persada Post)


TAJUK RENCANA

Oleh : RICO ADI UTAMA (Pemimpin Redaksi Persada Post)


INSIDEN politik berfoto ria-nya Indra Catri (Calon Wakil Gubernur Nomor Urut 2 di Pilkada Sumbar 2020), yang akrab disapa IC, di depan Posko MUALIM (Mulyadi – Ali Mukhni), menjadi perbincangan baru – baru ini.

Hal itu tentunya sangat mungkin dapat menciderai perasaan Mulyadi selaku Calon Gubernur (Cagub) dan Ali Mukhni (Cawagub) Nomor urut 1 dan para pendukung serta simpatisannya.

Baca jugaLukai Hati Para Pendukung Dengan Berfoto di Depan Posko MUALIM, ini Jawaban Santai IC?

 

Semboyan ‘Pilkada Badunsanak’ (Indonesia: Bersaudara) sudah digaungkan sejak awal mula dimulainya kurenah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)/ Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Sumatera Barat.

Khususnya di Minangkabau dan/ atau secara territorial Provinsi Sumatera Barat, menganut budaya dan filosofi yang sangat menjunjung tinggi tata krama/ prilaku yang berbudi luhur. Salah satu diantara prilaku yang dianut oleh orang Minangkabau adalah Raso jo Pareso (Indonesia: tenggang rasa).

Maka, dengan budaya Raso jo Pareso tersebut, membuat orang Minangkabau tidak serta merta dalam bersikap dan berkata – kata dengan orang lain. Nilai – nilai itu sudah tertanam didiri orang Minangkabau sejak mereka kecil, apalagi di lingkungan yang sangat kental implementasi adat istiadatnya.

Memastikan terkait prilaku orang minangkabau tersebut soal Raso jo Pareso, bisa kita lihat dari pepatah berikut ini:

Kaluak paku kacang balimbiang;

Tampuruang lenggang lenggokan;

Bawo manurun ka Saruaso;

Tanam siriah jo gagangnyo;

Anak dipangku kamanakan dibimbiang;

Urang kampuang dipatenggangkan;

Tenggang nagari jan binaso;

Tenggang sarato jo adatnyo;

 Ukia nak rang Saruaso;

Dibuek anak Balai Salasa;

Sonsong runuik Sungai Pagu;

Baitu curiang barih rang dahulu;

 Anak bapangku kamanakan babimbiang;

Samo dibawo kaduonyo;

Arif manganduang bijak bicaro;

 Kini basuo dalam ukia;

Latak di rasuak paran dalam;

Di salasa balai-balai;

Baitu tutua rang dahulu.

Maka, oleh sebab itu, sebelum berfoto – foto ria, Indra Catri mesti memikirkan dulu, siapa yang akan tersinggung dan tentu bisa saja menolak secara halus, jika memang terkesan dipaksa oleh masyarakat, yang katanya menghimbau – himbau dirinya disaat sedang berkampanye disana.