21 Oktober 2021

Walaupun Mulyadi Dizolimi, Tetapi Sumbar Miliki Pemilih Cerdas!

Ir. H. Mulyadi, Politisi Nasional dari Sumbar.


OLEH: RICO ADI UTAMA (Founder  www.ricoadiutama.com & Pemred Persada Post)


IRONI, jika Ir. H. Mulyadi terlalu ditakuti. Ia hanya sebagai salah seorang Calon Gubernur (Cagub) Sumatera Barat dengan Nomor Urut 1, jelasya seorang kontestan; bukan lawan yang harus dihabisi membabi buta.

Ketakutan lawan politik Mulyadi, sehingga harus menjadikan objek pelanggaran terhadap Undang – Undang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dengan tuduhan berkampanye diluar jadwal pada salah satu televisi nasional (TV One), terkesan terlalu dipaksakan kepada tokoh nasional dari Sumatera Barat itu.

Inilah yang disebut sebagai upaya – upaya penjegalan untuk menjatuhkan Ir. H. Mulyadi, oleh lawan politiknya tersebut. Karena, pelanggaran yang dituduhkan itu adalah sebuah pelanggaran ringan yang belum terbukti. Dan, kuat dugaan direkayasa sedemikian rupa, sehingga terkesan pelanggaran serius.

Untuk diketahui, pelanggaran serius di Pilkada adalah money politic (politik uang). Itulah yang harus sebenarnya dijadikan musuh bersama, karena money politic merusak tatanan sosial masyarakat dan nilai – nilai demokrasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mungkinkah, hanya karena beberapa survei dan antusiasme masyarakat, yang sangat besar kepada Mulyadi – Ali Mukhni (MUALIM), mendorong niat menjegal itu. Ditambah lagi, pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 kemarin, Mulyadi adalah peraih suara terbanyak di Daerah Pemilihan (Dapil) Sumbar II, sekitar 145 ribu suara.

Disinyalir, pelanggaran yang dituduhkan kepada Mulyadi tersebut, hanyalah termasuk kategori pelanggaran ringan, jika memang terbukti. Sementara itu, lawan politiknya, telah terlanjur menggiring ke tengah publik seakan – akan  pelanggaran berat. Jelas, kondisi itu bertujuan mempengaruhi opini publik dan pandangan negatif terhadap Mulyadi.

Untuk diketahui, bahwa jika memang Mulyadi yang notabenenya diundang oleh stasiun TV One, merupakan pelanggaran kampanye diluar jadwal, tentu harus memenuhi unsur sebuah pelanggarannya, yakni; 1). Dengan sengaja melakukan kampanye diluar jadwal waktu yang telah ditetapkan KPU, 2). Kampanye adalah kegiatan untuk meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi-misi dan program.

Yang pastinya, Mulyadi hanya memenuhi undangan TV One pada Program ‘Coffee Break’, yang mana program tersebut adalah program rutin, sama sekali tidak ada unsur dengan sengaja.

Dalam acara  talk show tersebut, Mulyadi  hanya menjawab pertanyaan tentang potensi dan harapan masyarakat Sumbar, tidak ada penyampaian visi-misi dan program. Itu artinya,  tidak ada Kampanye!

Penggiringan opini publik yang juga bertujuan secara spesifik ingin mengerus elektabilitas Mulyadi berdasarkan survey Poltracking tanggal 25-30 Desember 2020 merupakan Calon Gubernur dengan elektabilitas tertinggi saat ini, tentu cara tersebut sangat bertentangan dengan kultur masyarakat Minangkabau yang mengedepan prinsip sportifitas.

Oleh sebab itu, tidak semudah itu masyarakat Sumbar dikelabui. Sebab, masyarakat Sumbar adalah pemilih cerdas dan hal itu sudah tercermin dalam pepatah Minangkabau sendiri;  Alun Takilek Alah Takalam, Takilek Ikan Dilauik  Alah Tantu Jantan jo Batinonyo (Maknanya: Orang Minangkabau, umumnya Sumatera Barat, sangat peka dengan prilaku sosial dan mampu dengan cepat menilai sikap seseorang dalam berinteraksi, termasuk soal dalam kurenah politik).

Malah, faktanya dilapangan, masyarakat  Sumatera Barat justru menjadi simpati dengan Mulyadi. Bahkan dukungan kepada Mulyadi terlihat semakin mengalir deras dan menguat.

Kesimpulannya, masyarakat mulai  marah, karena adanya upaya pihak  – pihak tertentu yang menyebarkan informasi, bahwa Mulyadi tersangka. Kemudian, ada pula yang sengaja membelokkan pelanggaran ringan Pemilu menjadi seakan – akan kasus pelanggaran hukum besar/ berat. (***)