16 Januari 2022

Ubah Minyak Tanah Jadi Pertalite, Penjual Migas Oplosan di Padang Ditangkap Tim Klewang

Kapolresta Imran Amir (kiri) dan Kasat Reskrim Polresta Padang Rico Fernanda (kanan), saat jumpa pers di Polresta Padang, Selasa (05/04/2021). (Melgi Anggia)

PADANG, PP- Polresta Padang melakukan jumpa pers terkait penangkapan penjual migas oplosan Palembang oleh Satuan Reskrim Tim Klewang Polresta Padang, Rabu (5/5/2021). Dalam jumpa pers tersebut, Kapolresta Padang, Kombes Pol Imran Amir, S.I.K., M.H., menginformasikan kepada masyarakat untuk lebih hati-hati dalam membeli minyak kentengan.

 

“Kita akan ekspos ke media bahwa ini merupakan kasus tindak pidana minyak tanah yang berasal dari Palembang yang nantinya akan dikirim ke masyarakat Kota Padang. Menyangkut dalam UU No 22 Pasal 54 Tahun 2001 tentang migas,” ungkapnya.

 

Kombes Pol Imran juga mengatakan, kronlologis kejadiannya bermula dari informasi dari masyarakat, pada hari Rabu (28/4/2021), jam 4 sore, bahwa ada penyelundupan minyak tanah, yang disinyalir dibuat untuk membuat bahan bakar sejenis pertalite.

 

Kemudian, Tim Klewang Polresta Padang berhasil menciduk pelaku di Jondul, Kelurahan Rawang, Blok L, No. 6, Kecamatan Padang Selatan. Di lokasi ditemukan barang bukti berupa botol minyak siap olahan, 4 buah tedmond kapasitas satu ton, satu botol pewarna warna hijau merek corosi, satu buah gayung, satu buah karung bubuk pembersih minyak tanah Palembang, satu buah mesin penghisap, selang, dan dua botol minum bekas.

 

Ia melanjutkan, saat penangkapan, tersangka tertangkap tangan mengangkut 4 ton minyak tanah Palembang dengan menggunakan satu mobil Diesel

 

“Jadi minyak ini diserahkan oleh Saudara Andri kepada Saudara Yatno yang sementara itu kita amankan, menerima minyak tanah tersebut, pada saat itu seharga 22 juta 600 ribu rupiah. Kemudian setelah diterima oleh saudara Yatno ini, diolah menjadi bahan bakar minyak pertalite yang berwarna hijau. Yang mana sebelum diolah itu berharga 6300 dan setelah diolah berharga 6500 rupiah,” ungkapnya.

 

Tersangka dijerat Pasal 54 jo 58 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas dan juga Pasal 480 KUHP.

 

Diketahui dari tersangka, perilaku merugikan banyak orang ini ternyata sudah dilakukannya sejak tahun 2013 lalu. (Iqbal/Anggi)

 

Editor: Vira Fazirah