21 Oktober 2021

Kisruh Politik Solok, Dodi Hendra: Mengapa Saya Harus Dizolimi? Sakitnya tuch Disini…!

Dodi Hendra, Ketua DPRD Solok. (Sumber: Foto Kompas)

ARO SUKA, PP – Sebulan lebih lamanya, Persada Post melakukan komunikasi intensif dengan Dodi Hendra (Ketua DPRD Solok) dan Epyardi Asda (Bupati Solok). Sementara kegiatan monitoring dan menginvetigasi beberapa hal di Kabupaten Solok, ternyata menggelitik Redaksi Persada Post, mendalami dugaan konflik/ perseteruan antara keduanya.

 

Tidak bisa ditepis, Dodi Hendra sangat terkesan di ‘lumpuhkan’. Ia diberikan berbagai masalah, yang seakan tidak masuk akal, dari mulai mencari kesalahan pribadi (bisnis dan emosional), hingga mengkebiri fasilitasnya sebagai Ketua DPRD, seperti; rumah, anggaran, wewenang dan lain sebagainya.

 

Walaupun Epyardi Asda mengaku kepada Persada Post, bahwa dirinya tidak memiliki masalah dengan Dodi Hendra, tetapi aura intervensi seakan ‘manyuruak dilalang salai’ (Indonesia: Bersembunyi dirumput sehelai), terasa tapi tampak samar.

 

Jika dihitung, memang kekuatan eksekutif lebih besar dibanding legislatif, saat ini. Fungsi dan tugas Anggota DPRD, mulai lemah, dikarenakan muncul aturan – aturan baru, yang membuat eksekutif lebih leluasa, terutama soal asset dan anggaran.

 

Kembali pada Dodi Hendra, dirinya sempat melakukan diskusi mendalam dengan Persada Post. Linangan air mata, yang seakan ia tahan, begitu tampak berbulir dan seakan ingin ditumpahkan dengan raungan yang keras.

 

Tetapi, Dodi Hendra, tetap berupaya mengurut dadanya. Ia menahan nafas, yang terkadang sesekali bersuara agak keras, sambil berteriak, “Apa salah saya???”.

 

“Mengapa saya harus di zolimi. Kepentingan apa semua ini. Apa salah saya dengan dia (nama disamarkan.red). Keluarga dan orang disekeliling saya kena imbasnya, termasuk rakyat Kabupaten Solok,” papar Dodi Hendra, sesekali menepuk pahanya, pertanda sedikit geram.

 

Memang, ibarat lagu, ‘sakitnya tuch,..disini’, demikian perihal terumit yang dialami Dodi Hendra hingga saat ini. Malah, iapun terkesan dipaksa turun dari kursi BA 3 H (Ketua DPRD Kabupaten Solok). Seakan, banyak orang yang mengintai jabatan itu, ibarat bangkai yang diperebutkan banyak serigala.

 

Epyardi Asda, malah akhir – akhir ini memilih bungkam dari Persada Post. Walaupun sempat ditawarkan oleh Pemimpin Redaksi Persada Post, adanya upaya islah diantara keduanya.

 

Bagaimana kelanjutan kisah keduanya. Nantikan berita – berita Persada Post terkait Kabupaten Solok dan ‘kucikaknya’ di masa mendatang. (RAU/ Bravo Team)