20 Oktober 2021

Wah..! Kuasa Hukum Rusma Yul Anwar Ungkapkan Hal ini Tentang Kajari Pessel?

Dari kiri: Gusman,SH, Rang Tuo Panduko Rajo dan Rusma Yul Anwar. (Foto: Ist)

PESSEL, PP – Batal dan/ atau tertundanya eksekusi terhadap Rusma Yul Anwar, yang saat ini menjabat Bupati Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, pada tanggal 8 Juli 2021 lalu, menyisakan berbagai pro dan kontra.

 

Masyarakat yang mengaku sangat mencintai dan sekaligus empati kepada RA, sapaan akrab Rusma Yul Anwar, ingin untuk sementara eksekusi itu ditangguhkan.

 

Karena, selain diduga kasus tersebut sarat dengan muatan politis, Rusma juga memiliki lebih dari 50% dukungan rakyat Pesisir Selatan. Hal itu terbukti atas kemenangan Rusma Yul Anwar – Rudi Haryansyah, pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 lalu.

 

Untuk diketahui, eksekusi RA adalah terkait dengan Keputusan Pengadilan Negeri Padang Nomor 642/Pid.Sus-LH/2019/Pn.Pdg, yang telah menjatuhkan vonis terhadap Rusma Yul Anwar dengan hukuman satu tahun penjara dan denda sebesar 1 miliar dengan subsider tiga bulan kurungan.

 

Gusman,SH, Rang Tuo Panduko Rajo, selaku Kuasa Hukum Rusma Yul Anwar, mengakui bahwa ia dan kliennya tidak akan pernah menghambat proses hukum yang berlaku dan berkeadilan. Terutama terkait eksekusi putusan Pengadilan Negeri Padang tersebut.

 

“Klien saya sangat kooperatif. Karena selain sebagai penjabat negara dan negarawan sejati, Ia adalah seorang pendidik (guru.red). Itu artinya, tidak terbesit sedikit pun di diri klien kami, bahwa ia akan mangkir dari eksekusi. Tetapi, masyarakat yang sangat mencintai dia, yang tidak ingin bupati kesayangannya di eksekusi dan jika perlu menang nanti di Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung,” kata Gusman, kepada Persada Post, Jum’at (17/9/2021).

 

“Namun, dalam hal ini, kami sangat berterima kasih kepada Ibu Dona Rumiris Sitorus selaku Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pessel. Beliau memiliki hati yang lapang dan pandangan yang luas. Sehingga, sikap beliau dalam menindaklanjuti eksekusi, sangat berhati – hati dan sudah sangat bijaksana,” imbuhnya.

 

Lebih lanjut, Gusman menjelaskan, bahwa sosok Dona Rumiris Sitorus seakan sudah mengadopsi kebijakan Minangkabau, khususnya ia ibarat Bundo Kanduang di Ranah Minangkabau.

 

“Ibarat Mancabuik Rambuik di Tapuang; Rambuik Tacabuik, Tapuang Ndak Taserak (Indonesia: Mencabut rambut di tepung; rambut tercabut, tepung tidak berserakan). Baik sadar atapun tidak, pepatah itu sudah di implementasikan oleh Ibu Dona Rumiris Sitorus. Ini sesuatu yang luar biasa,” jelas Gusman.

 

Menurutnya, Kajari Pessel sudah berupaya maksimal. Juga, wewenang ada ditangan Kajari dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani kasus RA. Itu artinya, kebijaksanaan dan filosofi dalam penegakan hukum, tidak terlepas dari kearifan lokal sebuah daerah, apalagi di Minangkabau. (Team Bravo)