6 Desember 2021

Terungkap! Inilah Fakta Dibalik Peristiwa Pengembokan Pagar SMA PGRI 1 Padang

Edi Suharto, Sekretaris Yayasan Pendidikan PGRI Padang versi Hardison Bahar, terciduk saat melakukan pengembokan SMA 1 PGRI Padang. (Foto: Istimewa)

PADANG, PP –  Kabar yang santer beredar ditengah masyarakat Kota Padang, bahwa adanya pihak yang berupaya melakukan pengembokan pagar SMA 1 PGRI Padang, Kamis (14/10/2021) kemarin, akhirnya terungkap oleh Persada Post, dari keterangan konfirmasi dua belah pihak, yang saling klaim berhak atas Yayasan Pendidikan PGRI Padang, Provinsi Sumatera Barat.

 

Pengembokan tersebut, menurut Dr. H. Dasrizal,MP, Ketua Yayasan Pendidikan PGRI Padang dan juga pendiri yayasan tersebut, adalah buntut dari klaim pihak Hardizon Bahar yang juga mengaku sebagai ketua yayasan itu.

 

“Saya Ketua Yayasan PGRI Padang, yang juga sudah menang dan/ atau ditetapkan berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Padang tanggal Nomor 112 pada tanggal 21 Januari 2020 dan Putusan Pengadilan Tinggi Nomor 226 pada tanggal 14 Desember 2020 dan akhirnya incrah pada tanggal 5 Juli 2021. Serta, penetapan eksekusi jatuh pada tanggal 23 September 2021 kemarin,” beber  Dasrizal, Sabtu (16/10/2021) kepada Persada Post, melalui saluran selulernya.

 

“Sementara, PGRI Sumatera Barat juga memperkarakan asset yayasan (Yayasan Pendidikan PGRI Padang ) dan sudah menang di Pengadilan Negeri Padang dan Pengadilan Tinggi Sumatera Barat serta saat ini ditahap Kasasi di Mahkamah Agung,” imbuhnya.

 

“Itu, pihak  Hardizon Bahar memutar balikkan fakta dan melakukan upaya – upaya seperti kemarin itu (pengembokan). Penyerobotan, yang mungkin karena dia kalah, maka dilakukanlah sesuatu yang membuat opini, seolah – olah mereka menang,” tegas Dasrizal.

 

Berdasarkan ketetapan itu, Dasrizal menegaskan, bahwa Hardison Bahar beserta pengurus sekolah SMA 1 PGRI Padang, harus memahami bahwa pihaknya (Dasrizal Cs) yang lebih berhak atas manajemen sekolah tersebut.

 

Sementara itu, Hardison Bahar kepada Persada Post menanggapi, bahwa terkait pengembokan tersebut adalah wewenang Kepala Sekolah SMA 1 PGRI Padang, Tasnim Anang,S.Pd,M.Si.

 

“Itu kan penyebabnya ada guru yang sudah dipulangkan ke dinas, dia tidak mau dan dilawanlah kepala sekolahnya kan. Saat ini kan masih sekolah daring, nah guru yang bersangkutan bersikeras untuk sekolah tatap muka, itu yang dpengaruhi oleh Pak Dasrizal itu,” ujar  Hardison Bahar.

 

“Guru itu Desi namanya, dikumpulkannya siswa disana, ada upacara lah, belajar tatap muka, ditegurlah oleh kepala sekolah, bahwa belum boleh karena masih klasifikasi level 4 PPKM. Pergilah kepala sekolah (Tasnim Anang) kepada Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan Sumbar, Pak Suryanto. Menanyakan izin dan Pak Suryanto mengatakan belum dan turunlah Kepala Dinas Pendidikan Sumbar (Adib Alfikri.red), menanyakan siapa yang bertanggungjawab,” katanya.

 

“Akhirnya Kepala Sekolah melaporkan kepada Polsek pada paginya (Kamis), agar mengingatkan guru itu. Guru itu tidak juga mau dicegah. Maka dibiarkan saja dulu, tapi karena hari sudah mulai malam, tentu pagar ditutup dan dibuka saja sedikit, nanti kan takutnya berkumpul lagi orang. Malah, guru yang tadi itu memanggil guru lainnya dan juga media TV, itu kan di setting,” tukasnya.

 

Dilain sisi, Persada Post mendapatkan informasi yang berbeda dengan keterangan yang disampaikan Hardison Bahar. Ternyata, pengembokan dilakukan dua kali, yakni pada pagi hari dan juga pada malam hari. Dan juga, guru yang dimaksud Hardison Bahar ternyata juga tidak melakukan PBM (Proses Belajar Mengajar) tatap muka, tetapi hanya mengumpulkan sebagian siswa dan menyampaikan tahapan PBM kedepannya, apabila level PPKM di Kota Padang turun dan bisa dilakukan tatap muka.

 

Dinas Pendidikan Sumbar Membantah

Kepada Persada Post, Adib Alfikri, Kepala Dinas Pendidikan  (Disdik) Provinsi Sumatera Barat membantah bahwa pihaknya memberikan saran secara langsung kepada pihak Tasnim Anang dan yayasan, yang berujung pada pengembokan pagar SMA 1 PGRI Padang.

 

“Pak Suryanto (Kabid SMA Disdik Sumbar) tidak ada menyarankan memboikot dan termasuk soal pengembokan itu. Malah, Pak Suryanto turun kelapangan dan ikut melepaskan gembok itu,” kata Adib Alfikri, Minggu (17/10/2021)

 

“Kita tidak ada urusan sekolah swasta dengan Disdik Sumbar,” tegasnya.

 

Sementara itu, Suryanto yang sempat terhubung dengan Persada Post, membantah memberikan saran kepada pihak Tasnim Anang.

 

“Saya kan dihubungi oleh pihak Polsek Padang Timur. Saya disana hanya memberikan saran dan menjelaskan bahwa nanti kalau sudah PPKM Level 3 dan 2, baru bisa sekolah tatap muka dan walaupun terbatas. Saya juga tidak sampai lima menit disana (SMA 1 PGRI),” ungkap Suryanto.

 

“Dia kan dekatin saya itu, Hardison Bahar dan Anang itu, lalu saya tolak dan saya katakan; pak saya tidak mau terlibat dengan bapak, saya bilang. Karena saya nanti terkesan memihak. Saya disini memastikan, bahwa tidak ada sekolah tatap muka,” ujarnya.

 

“tapi besok dia dipanggil Polisi itu (Hardison Bahar Cs). Karena hari Jum’at kemarin itu saya lapor polisi. Karena gembok itu yang buka polisi jadinya, sampai malam itu kan. Dia kan bukan di Koto Tinggi, inikan di PGRI Sudirman, ngapain pula dia kesitu,” pungkas Suryanto. (Rico Adi Utama)

 —-0—-

Nantikan! Berita selanjutnya, Keterangan Tasnim Anang dan Dr. Wahyudi (Kuasa Hukum) Dasrizal; Apakah Dasrizal Masih Berhal atau Tidak sebagai Ketua Yayasan Pendidikan PGRI Padang.