10 Januari 2022

(Eps 1) Terkuak! Tanah Pusako Tinggi Dijual Tanpa Hak di Pasie Laweh Tanah Datar

Kantor Wali Nagari Pasie Laweh. (Foto: RPG Networks/ Tim Bravo)

LUHAK NAN TUO, PP – Pantauan Tim Bravo Persada Post baru – baru ini di Jorong Babussalam, Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar (Luhak Nan Tuo), adanya dugaan penjualan harta/ tanah pusako tinggi (tanah ulayat.red) oleh seseorang bernama Ardinis Bakar kepada Sandra Isnania.

 

Penelusuran pun dilakukan. Diketahui, ternyata informasi terkait penjualan tanah itu adalah benar adanya. Tanah yang dijual merupakan harta pusako tinggi Suku Chaniago di Pasie Laweh.

 

Seseorang nara sumber, yang merupakan warga Pasie Laweh, inisial ‘DA’ berhasil dimintai keterangan oleh Tim Bravo Persada Post. DA membeberkan fakta – fakta penjualan tanah itu.

 

Menurut DA, awal mulanya masalah muncul terhadap harta pusako Suku Chaniago di Pasie Laweh, adalah dikarenakan adanya seseorang pendatang dari Rao – Rao ke Pasie Laweh dengan sesuatu keadaan (diduga berdagang atau bertempat tinggal) dan ‘Malakok’ (merapat dan/ atau menyandarkan diri) ke Suku Chaniago kepada Datuak Simarajo.

 

Lebih lanjut, menurut cerita DA, orang tersebut pada akhirnya mendapatkan tempat disisi Datuak Simarajo. Penyandang gelar Datuak Siamarajo yang sah pada waktu itu, akhirnya meninggal dunia. Dan, orang pendatang tersebut mengklaim dirinya, bahwa ialah sebagai penerus gelar Datuak Siamarajo.

 

Singkat cerita, gelar Datuak Simarajo disandanglah oleh sang pendatang itu. Sebelum ia wafat, mengklaim telah memberikan beberapa beberapa bidang tanah kepada orang kepercayaan di rumahnya.

 

Lalu, Ardinis Bakar belum lama ini diketahui telah menjual tanah yang diberikan itu kepada Sandra Isnania. Anehnya, Sandra Isnania ternyata adalah cucu Datuak Simarajo yang sah.

 

“Yang sangat disayangkan, yakni Wali Nagari Pasie Laweh dan KAN menandatangani penjualan tanah pusako tinggi tersebut,” kata DA, kepada Persada Post, belum lama ini.

 

Seharusnya, menyoal Tanah Pusako Tinggi di Minangkabau, adalah asset adat yang tidak sembarang bisa di jual dan dikomersilkan. Sebab, tata cara menggunakan tanah pusako tinggi di Minangkabau, memiliki aturan dan tambo adat yang sangat ketat dan dianggap skaral.

 

Hal itu sesuai dengan apa yang telah disepakati oleh oleh banyak kaum adat dan penghulu di Minangkabau, yakni sesuai adat tanah pusako tinggi tidak boleh dijual dan tidak boleh digadai.

 

Lebih tegasnya lagi, harta/ tanah pusako tinggi di Minangkabau; “jual tak dimakan bali, gadai tak dimakan sando, kecuali tiga perkara; rumah gadang ketirisan, gadih gadang tak balaki (bersuami)dan mayat terbujur di atas rumah (adanya keluarga dalam kaum adat yang meninggal dunia)”.

Pemandangan sawah di Nagari Pasie Laweh.

 

Sementara itu, Persada Post juga meminta keterangan kepada Datuak Sinaro, yang merupakan salah seorang Ninik Mamak di Pasie Laweh. Menurutnya, keturunan Datuak Simarajo sudah punah dan diambilllah ‘Anak Kambuik’ yang diduga orang pendatang itu, sebagai penerus dan memegang harta pusako maupun gelar Datuak Simarajo.

 

“Sewaktu anak kambuik ini memegang gelar Datuak Simarajo, keluarga Misbahulil dan keluarganya tidak pernah mengubrisnya. Kemudian, penyandang gelar Datuak Simarajo (anak Kambuik) itu meninggal dunia, maka adiknya meneruskan. Nah, adiknya inilah yang menjual harta pusako Kaum Datuak Simarajo,” beber Datuak Sinaro, kepada Tim Bravo Persada Post.

 

Untuk diketahui, Misbahulil adalah kaum Datuak Paduko dari Suku Chaniago di Pasie Laweh. Datuak Paduko dan Datuak Simarajo, memiliki kekerabatan di dalam Suku Chaniago di Pasie Laweh. Itu artinya, menyoal tanah harta pusako tinggi di Suku Chaniago Pasie Laweh, adalah merupakan satu kesatuan yang utuh dan memiliki aturan adat yang kuat di dalam kaum itu.

 

Lebih rincinya lagi, Ardinis Bakar telah menjual beli sawah yang terletak di Jorong Babussalam sebanyak dua petak (piring sawah). Bahwa, sebenarnya sawah tersebut dulunya pernah tergadaikan oleh Datuak Simarajo yang bernama Yakub kepada Kombuk.

 

Kemudian, Kombuk mempunyai anak bernama Dijah. Dan, Dijah mempunyai anak bernama Ardinis Bakar. Sehingga, Ardinis Bakar menjual tanah tersebut kepada Sandra Isnania.

 

Saat ini, Persada Post masih mendalami permasalahan penjualan harta pusako tinggi di Pasie Laweh tersebut, dengan meminta keterangan pihak – pihak terkait di Pasie Laweh.

 

Namun, yang tidak kalah pentingnya, Persada Post juga sedang meminta keterangan beberapa orang pakar adat di Minangkabau, termasuk pihak Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat. Sehingga, permasalahan tersebut menemui titik terang dan terungkap siapa dalang dibalik jual beli harta pusako tinggi di Pasie Laweh tersebut, yang dalam adat Minangkabau adalah sesuatu tindakan yang tidak wajar. (Tim Bravo)