10 Januari 2022

(Eps 2) Menyoal Harta Pusaka Tinggi Pasie Laweh: Setelah Konfirmasi, Ketua KAN dan Pembeli Memilih Bungkam!

Ilustrasi: Istano Basa Pagayuruyung di Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar. (Sumber Foto: commons.wikimedia.org/)

TANAH DATAR, PP – Persada Post melakukan penelusuran intensif, terkait informasi jual beli Harta/ Tanah Pusako Tinggi Suku Chaniago di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, tiga hari belakangan ini.

 

Berdasarkan pantauan Persada Post, berita sebelumnya yang berjudul: (Eps 1) Terkuak! Tanah Pusako Tinggi Dijual Tanpa Hak di Pasie Laweh Tanah Datar, menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat Pasie Laweh dan netizen di media sosial (WhatsApp dan Facebook).

 

Akhirnya Tim Bravo Persada Post melakukan penelusuran kepada berbagai pihak, terutama Suwriman Khatib Sutan yang akrab disapa Win selaku Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Pasie Laweh dan ‘IN’ (minta nama disamarkan) selaku pembeli Tanah Pusako Tinggi Suku Chaniago di Pasie Laweh.

 

Melalui kontak WhatsAppnya, Win saat dikonfirmasi hanya memilih diam/ bungkam, tetapi pesan dari Redaksi Persada sudah tertanda di baca (warna biru, tanda baca WhatsApp).

 

Sementara itu, IN langsung didatangi oleh Tim Persada Post ke kediamannnya di Pasie Laweh, namun ia memilih juga untuk tidak memberikan keterangan atas pembelian yang sudah dilakukannya dengan Ardinis Bakar.

 

Keanehan pun ditemui, IN dikabarkan oleh beberapa pihak ternyata adalah keturunan/ anak kemenakan dan/ atau cucu dari Datuak Simarajo yang asli (sah).

 

Dan, Ardinis Bakar, hanya pihak/ orang kepercayaan yang mengaku mendapat titipan beberapa bidang tanah dari Datuak Simarajo, yang menurut sumber Persada Post hanya orang yang ‘malakok’ (Indonesia; menempel, menyandar atau diakui.red).

 

Dilain sisi, Arianto yang merupakan Camat Sungai Tarab, ketika dikirim link berita Persada Post terkait pemberitaan penjualan tanah tersebut, langsung menanggapi Redaksi Persada Post.

 

“Terima kasih informasinya. Maaf, kami tidak bisa berkomentar tentang hal tersebut (jual beli harta pusako tinggi di Pasie Laweh). Karena tanah pusako tinggi, diluar kewenangan pemerintah,” ungkap Arianto.

 

Hingga berita ini ditayangkan, Persada Post terus melakukan penelusuran mendalam, demi mencari kebenaran dan asal usul penjualan harta pusaka tinggi di Suku  Chaniago Pasie Laweh, hingga terungkapnya kebenaran terkait hal itu serta kebenaran lainnya, yang selama ini dianggap tabu, agar tidak menjadi abu – abu.

 

Sebab, untuk diketahui kembali, menyoal Tanah Pusako Tinggi di Minangkabau, adalah asset adat yang tidak sembarang bisa di jual dan dikomersilkan. Karena, tata cara menggunakan tanah pusako tinggi di Minangkabau, memiliki aturan dan tambo adat yang sangat ketat dan dianggap skaral.

 

Hal itu sesuai dengan apa yang telah disepakati oleh oleh banyak kaum adat dan penghulu di Minangkabau, yakni sesuai adat tanah pusako tinggi tidak boleh dijual dan tidak boleh digadai.

 

Lebih tegasnya lagi, harta/ tanah pusako tinggi di Minangkabau; “jual tak dimakan bali, gadai tak dimakan sando, kecuali tiga perkara; rumah gadang ketirisan, gadih gadang tak balaki (bersuami)dan mayat terbujur di atas rumah (adanya keluarga dalam kaum adat yang meninggal dunia)”. (Tim Bravo)