Pekanbaru – Persada Post | Mubes (Musyawarah Besar) DPP PKDP (Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Keluarga Daerah Piaman), sudah semakin dekat. Beberapa rangkaian agenda acara sudah disusun rapi oleh Panpel (Panitia Pelaksana) Mubes VI PKDP, yang bakal dimulai nantinya pada tanggal 25 Februari – 3 Maret 2023 mendatang. Lalu, dilanjutkan dengan puncak prosesi Mubes pada tanggal 4 – 5 Maret 2023.
Jelang Mubes itu, maka sudah mulai pula bermunculan sosok – sosok Bacalon (Bakal Calon) Ketum (Ketua Umum) DPP PKDP dari berbagai profesi dan status sosial, yang tersebar pada pesan berantai WhatsApp, dalam daftar Bursa Ketum DPP PKDP 2023 – 2028, diantaranya: H. John Kennedy Aziz, SH; Letkol Laut Agus Rizal; H. Yobana Samial, SH, M.Kn; H. Markoni Kotto,SH; Suhatri Bur, SE, MM; Muhakam, SH; Kolonel Inf Adrian Adek, M.AP; H. Arisal Aziz; Yuliandre Darwis, P.hD; AKBP (Purn) Maryon,SH; Sutan Ramandung Philiang; Sutan Suardi Gutji; Laksma TNI (Purn) H. Guramad Sabirin, SH, MH; DR. H. Rustian, A.Pt, M.Kes; Kolonel Yunus Sikumbang dan Tasril Jamal.
Salah seorang tokoh PKDP, Yusuf Sikumbang, SH, MH, yang saat ini menjabat selaku Wakil Ketua Umum DPP PKDP, angkat bicara sekaitan sosok ideal yang patut dan mungkin, untuk Ketum DPP PKDP kedepannya itu. Ia mewanti – wanti, jangan lagi salah dalam memilih Ketum DPP PKDP, sehingga PKDP benar – benar dipastikan dapat berjalan dan berperan sebagaimana mestinya.
“Banyak yang mengatakan Calon Ketum DPP PKDP yang muda. Ada pula yang mengatakan yang tua. Lalu, ada yang mengatakan PKDP sama dengan Ormas lain. Menurut saya, untuk mencari calon Ketum DPP PKDP itu tidak sama dengan memilih KaDa (Kepala Daerah) atau Parpol di Pemilu (Pemilihan Umum). Penanganan PKDP ini beda. Orang yang seharusnya memimpin adalah orang yang mengerti dan mengenal, serta dikenal oleh orang PKDP itu sendiri. Dan, yang tidak kalah pentingnya, mengenal bagaimana itu PKDP, termasuk sejarah terbentuknya PKDP Tahun 1984 lalu,” ungkap Yusuf Sikumbang, Minggu (11/12/2022) di Pekanbaru, melalui telepon WhatsApp-nya, kepada Persada Post.
“Penanganan PKDP kedepannya harus beda, khusus bil khusus dibandingkan ormas lain. PKDP bisa menjadi organisasi moderen, rasional, tapi tidak terlepas dari pemikiran tradisional. Seorang Ketum DPP PKDP, mengerti dengan budaya dan kultur orang Piaman. Apapun perihal buruk baik di ranah, dibawa ke rantau. Maka barek samo dipikua (Indonesia; berat sama dipikul) dan ringan samo dijinjiang (Indonesia; Ringan sama dijinjing, atau dibawa). Ka Bukik Samo Mandaki, Ka Lurah Samo Manurun (Indonesia; Ke Bukit Sama Mendaki, Ka Bawah Sama Menurun),” bebernya.
“PKDP, memiliki rasa kebersamaan dan raso pareso tinggi (Indonesia; toleransi yang tinggi). Kalau tidak ada pengalaman dan tidak pernah besar dikampung, susah menjalankan PKDP kedepannya. PKDP tidak top down, PKDP itu membumi, dengan istilah Mambasuik Dari Bumi (Keluar/ Muncul dari Bumi). Karena PKDP didirikan dari bawah, dari tingkat korong, nagari dan kecamatan. Mambasuik Dari Bumi dari ikatan – ikatan korong, nagari dan kecamatan, sehingga terbentuklah PKDP itu,” tegasnya.
“Orang yang memimpin PKDP kedepannya benar – benar harus mengerti apa itu PKDP. Apa yang kita cari, bukan hanya muda bukan pula tua. Lihat track record-nya selama ini, apakah selama ini dia tinggal pernah di kampungnya, pernah peduli dengan orang Piaman; baik di ranah maupun di rantau. Takutnya yang memimpin PKDP kedepannya orang yang moderen dan tidak mengerti dengan sosial masyarakat orang Piaman, tidak akan bisa seperti ormas yang lainnya PKDP ini. Harus benar – benar mengerti dengan kultur orang Piaman yang di rantau dan ranah (kampung halaman),” tukuknya lagi.
“Memang, PKDP harus moderen, rasional, tapi tradisional. Kita juga punya ninik mamak dan cadiak pandai, itu kenapa mereka diangkat jadi pembina dan penasehat di PKDP. PKDP ini telah berdiri secara resmi sejak Tahun 1984, sudah 38 Tahun. Namun, 60 Tahun yang lalu sudah ada juga organisasi PKDP ini, namanya saja yang beda,” pungkasnya. (Rico AU Dato Panglima)






