Sijunjung – Persada Post | Sebanyak 76 Rumah Gadang, sepanjang 3 Km yang berjejer dan saling bersebelahan, menjadi penampakan juri ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) yang datang dari Jakarta, Kamis (30/3/2023) siang ke Perkampungan Adat Lorong Waktu Minangkabau di Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat.
Untuk diketahui, Diantara puluhan Rumah Gadang itu, 40 rumah dialokasikan sebagai Homestay bagi para wisatawan. Afrineldi,SH selaku Kadis Parpora (Pariwisata dan Olahraga) Kabupaten Sijunjung, dengan sigapnya mempersentasekan dihadapan Juri ADWI, yang diketuai oleh Prof. Azril beserta Mangku I Nyoman Kandia.
Afrineldi menjelaskan, bahwa dari 40 Rumah Gadang yang dialokasikan sebagai Homestay, 16 unit-nya dikelola dan dibina secara berkesinambungan melalui fasilitas dana CSR (Coorporation Social Responsibility) BCA (Bank Central Asia).
Menguatkan apa yang disampaikan oleh Afrineldi, Doni yang merupakan Perwakilan Dinas Parpora Provinsi Sumatera Barat juga mengutarakan, bahwa program One Vilage One Destination, sudah di-launching oleh Kabupaten Sijunjung pada awal Tahun 2019 lalu.
Kata Doni, saat ini 49 Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dan 27 nagari wisata, terdapat di Kabupaten Sijunjung. Lalu, program Dinas Parpora Sumbar pun berlanjut dengan; One Vilage One Event dan di Dewi Mandeh program pada tahun 2023.
“Promosi Api juara 2 Perkampungan Adat, walaupun kita kampung, tapi kita sudah melengkapi dengan barcode. Dimana barcode itu, kita bisa mengakses apa saja tentang rumah di Perkampungan Adat Sijunjung ini. Semoga kita bisa bangkit secara ekonomi setelah pandemi. Karena didalam RPJMD 2021-2926, telah tertuang untuk pariwisata,” tegas Doni.
Sementara itu, Rajilis selaku Walinagari Sijunjung dalam eksposnya menyampaikan, bahwa Nagari Sijunjung berpenduduk 11 ribu jiwa dan 70% adalah petani. Selain kebendaan Nagari Sijunjung juga mempunyai warisan ketakbendaan yaitu salah satu diantaranya; Tobo Konsi, Prinsip Tobo Konsi itu seperti koperasi, saling tolong menolong dengan sesama, terutama dalam soal mengolah pertanian.
Selain itu, adanya adat Berkaul dan Mambantai, yang merupakan kebiasaan dari masyarakat Nagari Sijunjung. Beberapa hal itu, termasuk cagar budaya tak benda juga.
“Rumah Gadang ini sudah ada yang lapuk dimakan usia. Tapi Pemnag (Pemerintah Nagari) mengusahakan dari sekitar Rp. 2,2 Milyar Pendapatan Nagari, dialokasikan sekitar Rp. 40 juta untuk Perkampungan Adat ini,” kata Rajilis .
“Selain itu, Bukik Tunduak adalah bukit tertinggi di Nagari Sijunjung ini dan bisa dimanfaatkan potensinya pada minat wisata khusus untuk Aero Sport, Tracking, Gantole dan Para Layang,” ulas Rajilis.
Lebih lanjut Rajilis menjelaskan, Seni silat tradisipun masih aktif dilakukan disasaran masing-masing di Perkampungan Adat Sijunjung. Juga, dari budaya berkaul adat sebagai proses syukur setelah panen, kemudian ziarah ke Makam Malin Bayang, ulama yang mashur dimasa itu. Di Makam Malin Bayang, diperpustakaannya banyak buku-buku tua, sebanyak 87 buah yang masih utuh.
“Di Homestay Rumah Gadang Perkampungan Adat ini, ada daya tarik yang lain yaitu tidur diatas padi. Juga adanya makanan berupa; Gulai Karambia, Galamai, Lopek Binti serta Rendang Bilalang. Semua itu adalah ikon kulinernya di Sijunjung. Ada juga souvenir ada gantungan kunci Kalentong Kabau dan Songket Padang Ranah Perkampungan Adat,” ujar Kadis Parpora Sijunjung, menambahkan.
“Untuk menginap di Homestay, sudah ada paket-paketnya,” lanjut Kadis Afrineldi menerangkan.
“Untuk bisa menang di ADWI, dimungkinkan adanya Rekor Muri yang akan bisa diraih, yaitu Perkampungan Adat Sijunjung adalah perkampungan adat terpanjang dan berarak terpanjang,” kata beliau berharap.
Pada kesempatan yang sama, Prof Azril mengatakan, Perkampungan Adat di Sijunjung itu, sangat unik. Hal itu karena berbasis Geopark, belum ada yang basisnya seperti ini.
“Peran dan tugas ADWI adalah mengangkat desa wisata untuk dikunjungi. Bukan hanya se-Indonesia, tapi hingga kemata dunia/ World Class. Sekarang dalam 75 besarkan (Perkampungan Adat Sijunjung), belum ditentukan peringkatnya. Sekarang penilaiannya langsung diberikan peringkat,” ujar Prof Azril, sambil memberikan support.
Dilain sisi, Mangku I Nyoman Kandia membeberkan pula, bahwa alasan Bali bisa menjadi destinasi wisata dunia adalah karena konsepnya bukan hanya sekedar promosi, tapi adalah cuan/ uang, bagi masyarakatnya.
“ada 5 indikator yang mempengaruhi soal keberhasilan Bali, yaitu; 1). Kelembagaan CHSE, 2). Toilet umum dengan Home Stay, 3). Kuliner, 4). Digital, 5). Tata kelola,” ungkap Mangku I Nyoman, menjelaskan. (Zalmendra Faisal)






