Organisasi Ekstra (GMNI) Versus Komprador Politik Saat ini: Masih Relevan?

Opini1388 Dilihat

Komprador politik, terkadang sering kita gunakan sebagai bahan guyonan pertemanan kita, saat kita masih lucu-lucunya sebagai penggiat diskusi dari satu warung kopi ke warung kopi lainnya.

 

Untuk diketahui, komprador politik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang, atau sekelompok orang yang bekerja sama dengan kekuatan asing atau pihak luar, untuk menguasai atau mempengaruhi politik dan ekonomi suatu negara. Seringkali, upaya-upaya itu mengorbankan kepentingan nasional.

 

Istilah komprador sendiri berasal dari kata Portugis comprador, yang berarti pembeli atau agen. Dalam konteks sejarah, komprador adalah agen atau perantara yang bekerja untuk perusahaan asing di negara-negara kolonial atau semi-kolonial.

 

Dalam konteks politik modern, komprador politik dapat merujuk pada: pertama, politikus atau pejabat yang menerima dukungan atau bantuan dari pihak asing untuk mencapai tujuan politik atau ekonomi. Kedua, kelompok atau partai politik yang memiliki hubungan erat dengan kekuatan asing dan mengutamakan kepentingan asing daripada kepentingan nasional.

 

Lalu, ketiga, Individu atau kelompok yang bekerja sama dengan pihak asing untuk menguasai atau mempengaruhi sumber daya alam, ekonomi, atau politik suatu negara.

 

Sehingga, komprador politik sering kali dianggap sebagai pengkhianat bangsa atau penjilat asing. Karena, mereka lebih mengutamakan kepentingan asing dari pada kepentingan nasional.

 

Sementara itu, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dianggap masih relevan sebagai representasi kaum nasionalis muda saat ini, dalam melawan komprador politik. Tetapi, tentunya dengan beberapa catatan penting, yakni:

 

Kekuatan GMNI?

GMNI haru membina dan mengembangkan jiwa nasionalisme di kalangan mahasiswa melalui kampanye nasionalisme, protes terhadap negara, dan kerjasama organisasi mahasiswa.

 

Selain itu, GMNI juga harus melakukan kontra narasi terhadap berbagai isu yang menentang nasionalisme. Kader GMNI harus memiliki cita-cita ideologis yang kuat, kecintaan pada Bung Karno, dan rasa cinta terhadap Indonesia yang besar.

 

Tantangan dan Kritik

Kendati demikian, gerakan mahasiswa, termasuk GMNI, sering kali terjebak dalam eksklusivitas, ketergantungan, elitis, reaksioner, dan oportunis. Hal itu dipengaruhi kurangnya interaksi dengan basis massa rakyat, membuat mahasiswa lebih sibuk dengan kehidupan lembaga intra kampus masing-masing.

 

Padahal, organisasi eksternal seperti Ormas, Organda dan Ornop, dapat menggeser peran dan fungsi lembaga kemahasiswaan dengan corak politik elitis yang dibawa mereka.

 

Relevansi dan Arah Gerakan

GMNI perlu meningkatkan kreativitas dan menggunakan pendekatan teknologi informasi untuk mengkampanyekan gagasan nasionalisme. Hal yang tidak kalah pentingnya, GMNI wajib memaksimalkan kader dan menjalin keterhubungan dengan program studi.

 

Perlu adanya mengembangkan aliansi dengan buruh/ pekerja di sektor apa pun, karena mahasiswa pada akhirnya akan menjadi buruh, pada fakta saat ini.

 

Maka dari itu, dalam konteks ini, GMNI dapat mempertahankan relevansinya sebagai representasi kaum nasionalis muda dengan memperkuat ideologinya, meningkatkan interaksi dengan rakyat, dan mengembangkan aliansi dengan kelompok lain yang memiliki tujuan serupa.

 

Perlu diingat, pola gerakan organisasi ekstra mahasiswa GMNI, dapat menjadi relevan sebagai representasi kaum nasionalis muda dalam melawan komprador politik, tergantung pada beberapa faktor:

 

Faktor Pendukung

Ada beberapa faktor pendukung GMNI diyakini dapat menghadapi keadaan komprador politik saat ini di Indonesia, diantaranya:

  1. Ideologi Nasionalis: GMNI memiliki ideologi nasionalis yang kuat, yang dapat menjadi landasan untuk melawan komprador politik dan mempromosikan kepentingan nasional.
  2. Sejarah Perjuangan: GMNI memiliki sejarah perjuangan yang panjang dan kaya, yang dapat menjadi inspirasi bagi kaum nasionalis muda untuk melawan komprador politik.
  3. Jaringan dan Solidaritas: GMNI memiliki jaringan dan solidaritas yang luas dengan organisasi lain dan masyarakat, yang dapat membantu memperkuat gerakan nasionalis muda.

 

Yang Perlu Diperhatikan

Terdapat beberapa faktor lain yang sangat perlu diperhatikan oleh kader-kader GMNI di Indonesia, yaitu:

  1. Relevansi dengan Isu Kontemporer: GMNI perlu memastikan, bahwa pola gerakannya relevan dengan isu kontemporer dan kebutuhan masyarakat saat ini.
  2. Keterlibatan Aktif: GMNI perlu memastikan, bahwa anggotanya terlibat aktif dalam gerakan dan memiliki kesadaran yang tinggi tentang isu komprador politik.
  3. Strategi dan Taktik: GMNI perlu memiliki strategi dan taktik yang efektif untuk melawan komprador politik dan mempromosikan kepentingan nasional.

 

Potensi

Yang tidak kalah pentingnya, patut menjadi perhatian serius GMNI, potensi-potensi tentang:

  1. Membangun Kesadaran Masyarakat: GMNI dapat membantu membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya komprador politik dan kepentingan nasional.
  2. Menggerakkan Aksi: GMNI dapat menggerakkan aksi mahasiswa dan masyarakat untuk melawan komprador politik dan mempromosikan kepentingan nasional.
  3. Membangun Jaringan: GMNI dapat membangun jaringan dengan organisasi lain dan masyarakat untuk memperkuat gerakan nasionalis muda.

 

Oleh sebab itu, dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, GMNI terbukti dapat menjadi relevan sebagai representasi kaum nasionalis muda dalam melawan komprador politik di Indonesia saat ini. (*)


Sumber: Diambil dari postingan Joni Teguh di Group Wacshap PA GMNI Jember.


Disadur oleh: Bagus Budi Antoro (PA GMNI Jember Jawa Timur)

Profil:

  1. Tinggal di Jorong Kurnia Kamang, Nagari Kamang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat.
  2. Organisasi aktfi: sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Sijunjung.