Amanah Para Guru: Ketika Hilangnya Budi Pekerti Anak Bangsa?

Opini46 Dilihat

Oleh: M. ARMAWI KOTO

Budayawan Spiritual Asal Piaman (Dewa)


SEBELUM Indonesia lahir sebagai sebuah republik secara resmi pada tahun 1945, wilayah Nusantara memang telah ditopang oleh fondasi peradaban yang dibangun oleh para leluhur melalui sistem kerajaan-kerajaan besar seperti; Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan banyak lagi.

 

Ada perbedaan kontras antara fondasi masa lalu dan realitas modern pada masa itu: pertama, pendekatan spiritual zaman kerajaan pada masa lalu dengan kepemimpinan dan simbol-simbol negara (seperti lambang kerajaan, panji-panji, hingga arsitektur candi dan keraton), tidak dibuat hanya untuk estetika atau pamer kekuasaan material.

 

Pada masa itu, Kosmologi dan Moral, dimana kekuasaan dipandang sebagai amanah spiritual, misalnya konsep Manunggaling Kawula Gusti atau raja sebagai pelindung darma.

 

Adapun saat itu, pemimpin diukur dari kemampuan menjaga harmoni antara manusia, alam dan tuhan. Simbolisme Mendalam, dimana setiap simbol memuat pesan moral dan ajaran hidup yang luhur, agar rakyatnya memiliki komitmen moral yang tinggi.

 

Kedua, pergeseran ke Arah Materialisme Modern, apapun setelah kemerdekaan dan memasuki era modernitas serta globalisasi, orientasi masyarakat secara global maupun nasional mengalami pergeseran ke arah materialisme dan pragmatisme.

 

Gejalanya, uang sebagai Ukuran Status: dimana nilai-nilai luhur, ketulusan, dan akhlak mulia sering kali terpinggirkan oleh indikator ekonomi. Kemudian, kesuksesan seseorang atau kehormatan di mata publik, kerap kali dinilai dari aspek materi, jabatan, atau kekayaan.

 

Krisis Akhlak dan moral

Ketika uang menjadi panglima, dampaknya adalah munculnya fenomena korupsi, hilangnya rasa sungkan (malu) dan menipisnya solidaritas sosial yang tulus.

 

Hubungan antarmanusia yang dulunya berbasis guyub (kekeluargaan) kini berisiko berubah menjadi transaksional. Meskipun tantangan materialisme ini sangat kuat, nilai-nilai spiritual dan moral lama sebetulnya tidak sepenuhnya hilang, melainkan terpendam di bawah arus modernisasi.

 

Tantangan terbesar bangsa kita saat ini adalah; bagaimana mengintegrasikan kembali nilai-nilai akhlak dan moral (budi pekerti), sebagai warisan leluhur kita ke dalam sistem kehidupan modern, agar kemajuan ekonomi tidak mengorbankan budi pekerti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *