Jakarta – Persada Post | Perundungan atau bullying, saat ini sudah semestinya menjadi ‘PR’ bagi semua pihak, terutamanya instansi pemerintah yang berhubungan dengan anak dan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebab, dampak yang ditimbulkan oleh bullying, sudah banyak memakan korban saat ini, terutama dari kalangan anak-anak usia sekolah SD (Sekolah Dasar) hingga SMA (Sekolah Menengah Atas).
Ironisnya, sebagaimana dikutip dari Kompasiana.com membeberkan, bahwa maraknya perundungan (bullying) di sekolah menjadi masalah darurat karena memicu trauma psikologis berat dan penurunan prestasi akademik hingga memicu tindakan kekerasan ekstrem. Mengatasi hal itu, membutuhkan reformasi total sistem pendidikan dengan memperkuat literasi emosi, pengawasan guru, serta jalur pelaporan aman bagi siswa.
Masih sumber yang sama menjelaskan, perundungan paling sering terjadi dalam bentuk fisik dan verbal, dan paling rentan menimpa siswa di tingkat SD hingga SMA. Berbagai faktor utama yang memicu maraknya bullying antara lain:
Kegagalan Sistem
Kurangnya pendidikan sosial-emosional dalam kurikulum dan lemahnya pengawasan dari pihak sekolah yang membuat pelaku leluasa beraksi.
Pengaruh Sosial
Paparan teman sebaya, media sosial, dan lingkungan keluarga.
Keengganan Melapor
Korban sering kali merasa takut, malu, atau diancam, sementara saksi juga kerap bersikap abai atau takut terlibat.
Sementara itu, Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK RI), menjelang peringatan Hari Anak Nasional, tanggal 23 Juli 2026 kemarin, mengeluarkan solusi terkait masalah bullying tersebut.
Dilansir dari saluran WhatsApp resmi Kemenko PMK, belum lama ini, menjelaskan solusi pihaknya atas keadaan itu. Katanya, Menko (Menteri Koordinator) PMK RI, Pratikno, mengklaim memiliki solusi tersebut dengan cara membangun SDM unggul dimulai dari anak yang tumbuh di ruang yang aman dan nyaman.
“Pemerintah terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui berbagai program prioritas, sekaligus memperkuat pelindungan anak melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA),” ungkap Praktikno.
Lebih lanjut ia menjelaskan, melalui empat pilar utama keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital. Pemerintah mengajak seluruh elemen bangsa menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang agar setiap anak dapat tumbuh sehat, belajar dengan optimal, serta mengembangkan potensinya.
“Karena Indonesia Emas 2045 dimulai dari anak-anak yang terlindungi hari ini,” tegas Praktino. (Red)
