Aceh Timur – Persada Post | Memasuki hari keempat pasca-insiden semburan lumpur akibat pengeboran sumur air di Gampong Meunasah Tingkeum, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, situasi justru kian mengkhawatirkan. Info ini dilansir oleh akun Facebook ‘Bangsa Aceh’, Sabtu (4/7/2026).
Masih sumber yang sama menyebutkan, titik semburan utama di lokasi pengeboran memang mulai mereda. Namun, ancaman baru muncul berupa gelembung-gelembung gas di area persawahan milik warga.
Lebih lanjut dijelaskan, berdasarkan pantauan di lokasi kejadian pada Sabtu (4/7/2026), semburan lumpur panas bercampur gas yang sempat memuntahkan material pekat hingga menutupi halaman Masjid Baitul Idzah sejak Rabu hingga Jumat, kini tak lagi menyembur keluar.
Parahnya, suara gemuruh dari dalam perut bumi masih terdengar sangat jelas. Tekanan bawah tanah tersebut rupanya mencari jalur keluar yang baru.
Gelembung-gelembung air dan gas kini mulai bermunculan di sawah-sawah sekitar titik awal lubang bor. Fenomena susulan ini praktis membuat warga yang bermukim di sekitar lokasi semakin panik dan merasa terancam.
Salah satu warga yang terdampak langsung adalah Ardi, seorang penjahit yang rumahnya berada di “ring satu” kawasan rawan. Titik awal semburan berjarak hanya 7 meter dari rumahnya, sementara jarak ke area dapurnya hanya sekitar 6 meter.
“Sejak hari Rabu saat meletus pertama itu, kami langsung evakuasi. Sekarang malah ditambah lagi dengan munculnya gelembung baru di sawah tepat di belakang rumah saya. Bagaimana saya tidak cemas? Kami semua sudah mengosongkan rumah dan terpaksa mengungsi ke rumah orang tua,” ungkap Ardi saat ditemui di lokasi, Sabtu (4/7/2026).
Kepanikan Ardi dan warga setempat sangat beralasan. Sebelumnya, tim ahli telah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan udara. Hasilnya, ditemukan adanya kandungan gas dari lubang tersebut.
Tim ahli telah memberikan peringatan keras agar tidak ada warga yang mendekat, serta melarang keras menyalakan api atau merokok di radius aman.
Namun ironisnya, menurut penuturan warga, peringatan tersebut tidak dibarengi dengan mitigasi penanganan bencana yang nyata dari otoritas terkait.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada upaya teknis untuk menutup lubang semburan atau melokalisir area agar gas dan lumpur tidak menyebar. (Red)
