Oleh: Jacob Ereste
Idul Qurban yang dirayakan pada setiap tanggal 10 Zulhijah penanggalan Islam tahun ini yang bertepatan pada tanggal 6 Juni 2025, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Mekkah, menandai spiritualis dan ikatan sosial yang kuat dalam ajaran dan tuntunan Islam.
Peristiwa spiritual itu sendiri yang dilakukan Nabi Ibrahim dengan keikhlasan untuk mengorbankan anaknya Nabi Ismail, yang mendapat perintah dari Allah SWT, melalui mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail; diterima dengan tulus dan ikhlas menjalankan perintah tersebut sebagai bentuk ketaatan dari keyakinan yang kuat.
Sehingga, Allah SWT, memberikan kemukjizatan dengan wujud mengganti sosok Nabi Ismail dengan seekor domba, sebagai tanda keikhlasan dan ketundukkan Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail yang sangat luar biasa itu dan merupakan peristiwa yang sakral.
Maka, simbol dari pengorbanan serta peristiwa spiritual tersebut, yang terjadi pada ribuan tahun silam, kemudian terus dikenang serta ditaati dan dirayakan sampai hari ini oleh seluruh umat Islam, yang mampu melakukan penyembelihan hewan serta sebelumnya mampu menunaikan ibadah haji.
Nabi Ibrahim AS adalah salah satu Nabi yang diakui oleh sejumlah agama tanpa keraguan sedikitpun. Nabi Ibrahim diyakini sebagai Bapak Tauhid, karena dengan akal dan fitrahnya; ia teguh dan tegas menolak menyembah berhala. Baginya yang patut dan harus disembah hanya Allah semata.
Keyakinan Nabi Ibrahim harus berhadapan dengan ayahandanya sendiri, Raja yang berkuasa saat itu dan masyarakat setempat yang masih sangat banyak tidak sesuai dengan ajaran dan tuntunannya.
Keikhlasan yang didasari oleh ketaatan Nabi Ibrahim sudah teruji dengan kerelaannya mengorbankan anaknya, Nabi Ismail. Inilah kemudian yang menjadi inti dari perayaan Idul Adha. Kesabaran Nabi Ibrahim pun telah teruji dengan mengalami pengusiran, dibakar hidup-hidup, belum memiliki anak hingga usia tua.
Kepemimpinan dan keteladanan Nabi Ibrahim pun diakui oleh Allah SWT sebagai Imam (pemimpin umat manusia) karena ketangguhan akhlak, integritas dan keteguhannya dalam menegakkan kebenaran. Do’a Nabi Ibrahim pun dikabulkan Tuhan dengan memberi pada keturunannya melahirkan seorang Nabi Besar Muhammad SAW.
Ia pun sebagai pendiri Ka’bah yang menjadi pusat ibadah tauhid bagi umat Islam, hingga tercatat sebagai warisan spiritual yang nyata sampai sekarang. Dan, pengalaman spiritual Nabi Ibrahim telah berupaya sejak usia muda mencari Tuhan. Karena dia menolak berhala.
Nabi Ibrahim pun membuktikan kekuatan akal dan fitrah spiritualnya dalam mencari kebenaran, serta berani melakukan dialog dengan Raja Namrud sebagai bukti keteguhan iman serta keberanian serta kedalaman capaian spiritual yang telah dia lampaui.
Meski begitu, ibadah haji dan memotong korban hewan pada perayaan hari Raya Idul Adha itu bagi umat Islam hanya diwajibkan bagi yang mampu. Sedangkan, bagi yang tidak; tiada mendapat kewajiban yang harus dilakukan.
Maka dari itu, dalam konteks kekecualian serupa ini, dapat segera dipahami bahwa hukum yang wajib di dalam agama itu orientasinya selalu mengacu pada nilai-nilai kamusiaan yang tidak boleh diabaikan. Artinya, sikap toleransi dalam Islam sungguh mendapat tempat dan perhatian yang istimewa Agat tidak sampai diabaikan.
Bagi umat Islam yang mampu, bisa saja menyembelih hewan qurban dikonversi dengan wujud seekor sapi atau kerbau yang dianggap layak dan patut disembelih sebagai hewan qurban pada hari raya lebaran Adha, sebagai simbolika dari upaya meneruskan ajaran dan tuntunan Nabi Ibrahim.
Untuk itu, hewan qurban yang dianggap layak dan pantas karena telah cukup umur dan memiliki bobot yang mendekati takaran maksimal perkembangan tubuhnya, dapat menjadi standar ukuran yang ideal. Karena, istilah pedet atau gudel dalam terminologi literasi Jawa untuk menyebut anak sapi yang belum cukup umur, agaknya beranjak dari kesadaran spiritual yang terkait dengan tradisi memotong hewan qurban.
Sebab, untuk hewan qurban yang terbaik seperti kambing atau domba adalah yang telah cukup usia dengan bobot yang mendekati maksimal perkembangannya. karena hanya dengan begitu, ekspresi keikhlasan serta rasa syukur yang dalam, dapat mendatangkan kebaikan serta keberuntungan bagi siapa saja yang melakukannya.
Perlu diketahui juga, dalam terminologi Jawa, istilah untuk anak sapi yang belum dewasa disebut pedet atau gudel, sehingga jelas tidak disebut sapi dalam pengertian dan pemahaman yang telah sempurna. Sehingga, pedet atau gudel jelas dianggap tidak layak untuk dijadikan hewan qurban untuk kesempurnaan ibadah umat Islam pada hari raya Aidul Adha.
Alasannya; gudel atau pedet itu belum cukup umur dan belum maksimal perkembangan tubuhnya. Sehingga, tidak akan maksimal mendatangkan manfaat bagi siapa saja yang melakukan penyembelihan hewan yang belum memenuhi syarat tersebut.
Jadi, dimensi spiritual yang jauh lebih mendalam dari kesadaran dan pemahaman serta implementasi perilaku spiritual masyarakat Jawa, pada umumnya jauh lebih mendalam dan substansial, serta eksistensi spiritualitas dalam tradisi dan budaya yang diwariskan para leluhur.
Karena lewat ekspresi bahasa yang memiliki keleluasaan daya ungkap, hingga kepada spesifikasi anak sapi yang belum cukup umur atau perkembangan tubuhnya yang maksimal, dalam perspektif Jawa; anak sapi itu harus dibedakan dengan seekor sapi lainnya yang sudah dewasa dan layak disebut sebagaimana yang dimaksud sapi yang sesungguhnya.
Demikian juga untuk sebutan padi yang berbeda dengan beras. Sehingga padi harus diolah, agar tidak cuma menjadi konsumsi makanan bebek. Karena beras dapat menjadi konsumsi manusia.
Sunter, 28 Mei 2025
Editor: Rico AU







https://shorturl.fm/IPXDm
https://shorturl.fm/eAlmd
https://shorturl.fm/TDuGJ