Oleh: Jacob Ereste
MUSIM hujan dan kemarau yang tidak menentu, seakan sedang menggambarkan kondisi dan situasi politik di tanah air kita yang sulit diduga sebelumnya.
Seperti pelaksanaan hukum yang kacau, persis seperti hujan pada hari Kamis, 25 Juni 2026 di Jakarta dan sekitarnya, membuat warga Tangerang dan Banten menuju Jakarta menjadi takjub melihat dan mengalami langsung kondisi banjir yang terjadi di atas jalan Layang, Peding, Daan Mogot juga jalan layang Roxi, Jakarta Barat.
Kejadian dari suasana banjir yang sungguh mencengangkan itu, seperti sedang mengingatkan pada kondisi dan situasi di negeri kita yang juga tidak menentu juntrungannya.
Minimal dalam perencanaan dan perawatan jelas tidak dilakukan secara maksimal layak infrastruktur untuk pelayanan publik di Kota Tangerang yang sangat terkesan asal-asalan dilakukan; mulai dari lampu penerangan jalan pada malam hari yang memprihatinkan hingga jalan berlubang yang cuma dilakukan tambal sulam dan tidak cukup membuat pengguna jalan merasa nyaman.
Karena, tambalan jalan yang dilakukan bukan saja tidak sempurna, tapi seperti dilakukan terkesan setengah hati, yang mungkin untuk mengirit dana perbaikan agar bisa lebih banyak yang dikantongi oleh petugas pelaksana, atau lagi untuk mereka yang membuat perencanaan anggaran.
Jalan di Kota Tangerang dan sekitarnya yang cukup buruk dan membahayakan warga masyarakat sebagai pengguna, bisa dilihat di sepanjang Jalan Mohammad Toha hingga Jalan Leo Baru, hingga ujungnya di Tanah Tinggi yang juga nyaris selalu macet setiap waktu, kecuali pada tengah malam menjelang pagi.
Meski begitu, toh kerawanan dan kenyaman tetap membuat hati cemas, karena cukup rawan dari tindak kejahatan yang cenderung meningkat pada waktu belakangan ini, akibat kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik.
Diperparah lagi, fasilitas umum jalan yang rusak ditambal sulam seperti jalan sepanjang dari pusat Kota Tangerang hingga Kutabumi dan seterusnya, yang sering dilakukan penggalian, entah untuk kabel dan saluran air bersih. Kondisinya juga tidak memiliki saluran pembungan air, hingga cukup lama menggenangi jalan raya, kendati hujan sudah cukup lama behenti.
Parahnya lagi, jalan sepanjang dari Kita Tangerang sampai kawasan PIK 2 (Pantai Indah Kapuk 2) selalu dilalui truk pengangkut tanah dari daerah Tangerang Selatan untuk menguruk proyek PIK 2 yang tetap terus berjalan dengan muatan penuh berkisar diatas 30ton beratnya. Mungkin, karena itu pula jalan sepanjang Muhamad Toha di Kota Tangerang hampir salalu dalam keadaan yang rusak.
Ironis, suara protes dari warga masyarakat seperti sedang menunggu reaksi lebih keras lagi, seperti mahasiswa Indonesia yang selalu merasa terpaksa untuk melakukan aksi dan unjuk rasa. Agar, membuka telinga dan mata aparat pemerintah yang ikut membungkam mulutnya sendiri, seperti wakil rakyat yang sudah terlalu kenyang melahap duit rakyat.
Seyogiyanya, sikap yang bijak dari pemerintah, tak hanya pemerintah pusat, tapi juga pemerintah daerah. Tak perlu menunggu aksi dan unjuk rasa dilakukan oleh mahasiswa, maupun warga masyarakat.
Kita mengetahui, fungsi dan tugas melayani itu sudah dibayar oleh pajak yang didulang dari tetesan keringat rakyat. Lantaran itu, rakyat berhak menikmati pelayanan yang maksimal dari fasilitas umum, yang harus dan wajib disediakan sebaik mungkin dari pemerintah.
Maka, sikap yang lebih beradab itu akan membentuk dan membangun masyarakat yang lebih manusiawi dan patut diberi apresiasi terhadap nawaitu pemerintah (jika dilakukan).
Tangerang, 25 Juni 2026
