MINANGKABAU adalah etnis yang sangat kaya dengan nilai-nilai filosofi adat dan budayanya. Islam, juga menjadi khas orang Minangkabau, yaitunya; orang Minang pasti beragama Islam dan orang Islam belum tentu orang Minang.
Sekaitan Islam tersebut, maka filosofi Minangkabau yang populer saat ini adalah; Adaiak Basandikan Syarak, Syarak Basandikan Kitabullah (ABS-SBK). Arti singkat dari filosofi itu adalah; bahwa, adat dan budaya orang Minangkabau berlandaskan pada syarak atau yang lebih mendekati adalah agama dan agama yang dimaksud adalah Islam Rahmatan Lil’alamin.
Kemudian, Syarak berlandaskan pada Kitabullah (Kitab Allah), yakni Islam memakai kitab yang bernama Al-Qur’an dan juga mengimani adanya kita sebelum Al-Qur’an, diantaranya; Zabur, Taurat dan Injil. Tetap, yang dipakai adalah landasan Al-Qur’an oleh Minangkabau, sebagaimana yang dimaksud pada kata Kitabullah.
Kekayaan adat dan filosofi orang Minang, membuat etnis yang satu ini, lebih berhati-hati saat bersikap dan bertindak. Kebijaksaan secara moral dan adat serta budaya, menjadi tolak ukur kualitas diri orang Minang.
Terutama menyoal tokoh dan politisi, orang Minang walaupun hebat di rantau dan di ranah (kampung halaman), ia tidak ingin serta merta, neko-neko, apalagi over acting (Sikap yang berlebih-lebihan).
Karena ada pula ungkapan orang Minang yang cukup tegas; Kok kayo, kayolah surang, nan ambo ndak ka mintak (Indonesia; kalau kaya, kayalah sendiri, saya tidak akan meminta) – Kok cadiak, cadiaklah surang, nan ambo ndak ka batanyo (Indonesia; Kalau cerdik, cerdik lah sendiri, yang saya tidak akan bertanya).
Begitu tegas ungkapan tersebut, sehingga orang Minang tidak akan terkesima dengan politisi hebat, namun over acting. Orang Minang sangat salut dan bangga dengan tokoh-tokoh mereka yang berhasil dan hebat di tingkat daerah hingga nasional. Namun, jika tokoh tersebut over acting, diperparah tidak santun, maka tidak akan menjadi panutan dan bisa saja dilengahkan sepanjang massa.
Salah satu politisi nasional orang Minang, yang saat ini diangap cukup santun, tidak neko-neko dan over acting, menurut penilaian penulis adalah; Athari Gauthi Ardi.
Ia lahir Tanggal 15 April 1992, adalah usia yang masih sangat muda. Namun, berkat kegigihannya dan termasuk dukungan orang tua (Epyardi Asda/ Bupati Solok aktif saat ini), dirinya mampu memenangkan suara rakyat pada Pileg (Pemilihan Legislatif) 2019 lalu, duduk di DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan dari Dapil (Daerah Pemilihan) Sumatera Barat 1.
Penulis sempat berdialog via telepon WhatsApp dengan Athari, ia mengungkapkan; bahwa menjadi politisi dirinya berbasiskan program dan aspirasi rakyat sebagai Anggota DPR RI. Ia tidak ingin melakukan hal aneh-aneh, misalnya manuver politik yang berlebihan sehingga menyinggung hati rakyat.
Jika dirinya punya program, melalui reses ataupun kunjungan kerja (serapan aspirasi), maka akan berjalan sebagaimana mestinya, tidak lebih dan kurang.
Malah, dirinya juga minim dari pemberitaan, padahal sang ayah sedang berkuasa di Kabupaten Solok, sebagai orang nomor 1, tentu fasilitas media adalah hal yang tidak terlalu sulit pula, jika ingin di ekspos, kalau dirinya berkunjung ke Solok.
Athari adalah cerminan politisi unsur Bundo Kandung yang patut ditiru. Diperkuat, moralitas orang Minang menganut kebijaksaan pikir dan bertindak. Sebagaimana ungkapannya pula; Babuek baiak pado-padoi, babuek salah sakali jangan, Indonesia; Berbuat baik jangan berlebihan, berbuat salah jangan sesekali. (*)
*). Penulis: Rico AU Dato’ Panglima (Direktur Eksekutif POLEGINS/ Political and Legal Institute)
