Berbuka di Kediaman Prof. Din dan Menyoal Makna Puasa Lintas Agama

Nasional789 Dilihat

Jakarta – Persada Post | Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN PIM) bersama Eduversal Foundation dan Komunitas Orbit Lintas Karya menggelar acara iftar dan silaturahim, Minggu (9/3/2025) kemarin, di kediaman Prof. Dr. Din Syamsuddin, Kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

 

Acara itu dihadiri oleh puluhan tokoh lintas agama, dengan ajang berbuka puasa bersama dan juga mempererat dialog antar agama dalam suasana Ramadhan.

 

Din Syamsuddin, yang akrab disapa Prof. Din, yang menjadi imam sholat tarawih membuka diskusi dengan menegaskan, bahwa puasa adalah praktik universal dalam berbagai agama, yang meskipun memiliki perbedaan bentuk, tetap memiliki esensi yang sama;  menahan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

 

“Meskipun ada perbedaan dalam tata cara dan tujuan puasa di berbagai agama, terdapat satu nilai yang menyatukan: puasa adalah latihan menahan diri untuk mencapai kesucian dan kedekatan dengan Yang Maha Kuasa,” ujar Prof. Din.

 

“Dari berbagai perspektif ini, kita melihat bahwa puasa bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga sarana membangun karakter, memperkuat kebersamaan, dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan,” tulis Prof. Din, yang merupakan mantan ketua PP Muhammadiyah dua periode itu, melalui Medsos (Media Sosial) WhatsApp-nya, Senin (10/3/2025) pagi.

 

Dialog yang dimulai setelah tarawih tersebut, bertajuk; “Puasa dalam Perspektif Agama-Agama”. Dimana, pegiat kemasyarakatan Katholik, Handoyo Budhisejati juga turut menjelaskan, bahwa dalam tradisi Katolik, puasa dan pantang merupakan bagian penting dari ibadah, terutama selama masa Prapaskah.

 

Katanya lagi, Umat Katolik berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, dengan aturan makan hanya satu kali kenyang dalam sehari, serta pantang daging setiap Jum’at.

 

“Puasa dalam Katolik mengajarkan disiplin rohani dan solidaritas dengan mereka yang berkekurangan,” kata Handoyo.

 

Sementara itu, Uung Sendana, Mantan Ketua Umum MATAKIN menambahkan, dalam ajaran Konghucu; puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi lebih kepada pembinaan moral dan pengendalian diri.

 

“Dalam tradisi Zhai Jie, seseorang berpuasa dengan membatasi konsumsi makanan tertentu serta menghindari perilaku buruk. Puasa dalam Konghucu menekankan kesederhanaan, introspeksi, dan kebajikan,” papar Uung.

 

Masih pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Permabudhi Phillip K. Widjaja menjelaskan, bahwa dalam ajaran agamanya, puasa dilakukan sebagai bagian dari pelatihan disiplin diri dan meditasi.

 

“Umat Buddha sering menjalankan Uposatha, yaitu puasa pada hari-hari tertentu dalam kalender lunar, di mana mereka tidak makan setelah tengah hari. Puasa dalam ajaran Buddha bertujuan untuk mencapai kejernihan batin dan mengendalikan nafsu,” beber Philip.

 

Selain itu, Nyoman Udayana, yang merupakan Tokoh Hindu menjelaskan pula, bahwa dalam Hindu, puasa disebut Upavasa, yang berarti mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menahan diri dari makanan, minuman, serta hawa nafsu.

 

“Puasa dalam Hindu memiliki beragam bentuk, seperti Ekadashi, yang dilakukan setiap dua minggu sekali, dan Shivaratri Vrata, yang dijalankan untuk menghormati Dewa Shiva. Dalam Hindu, puasa bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga menyucikan pikiran dan jiwa,” ujar Nyoman Udayana.

 

Lebih lanjut, Pdt. Jacky Manuputti selaku Ketua Umum PGI, mewakili Kristen Protestan menguraikan, bahwa dalam tradisi agamanya, puasa adalah bentuk ibadah yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

 

“Puasa sering dikaitkan dengan masa Prapaskah yang berlangsung selama 40 hari sebelum Paskah. Yesus sendiri berpuasa di padang gurun selama 40 hari sebagai bentuk penguatan spiritual. Puasa dalam Kristen Protestan bukan hanya pantang makanan, tetapi juga menahan diri dari hal-hal yang dapat mengalihkan fokus dari ibadah,” kata Jacky.

 

Terakhir, Kyai Amidhan Saberah yang merupakan mantan Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) memaparkan, bahwa dalam Islam puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu.

 

Katanya, puasa lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, puasa adalah latihan spiritual untuk meningkatkan takwa. Ia menegaskan, puasa mengajarkan kesabaran, kepedulian kepada sesama, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Ind/ Rel/ Indra D)


Editing: Redaksi Persada Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *