Sijunjung dan Kesunyian Perlawanan

Opini746 Dilihat

Suara Warga*

HARI ini, masyarakat Sijunjung tidak sedang baik-baik saja. Mereka memang hidup dalam satu ruang yang tampak terbuka, namun sejatinya adalah kurungan.

 

Diskusi dibiarkan terjadi, tetapi hanya sebatas formalitas. Perbedaan dipelihara bukan untuk kemajuan, melainkan untuk memecah. Kita diseragamkan cara berpikirnya, dipisahkan perasaannya, lalu diadu dalam petak-petak kecil agar tak pernah benar-benar bersatu.

 

Akal sehat dipinggirkan, emosi dipelihara.

Mereka yang patuh diberi ganjaran kecil sekadar cukup untuk bertahan, namun tidak pernah cukup untuk merdeka. Kita dibuat bangga karena merasa dekat dengan kekuasaan, padahal yang dekat itu hanya ilusi. Tanpa disadari, manipulasi psikologis bekerja sempurna: keberanian melemah, daya kritis mati perlahan.

 

Mereka yang menolak tunduk disingkirkan dengan cara yang lebih rapi.

Bukan dengan kekerasan terbuka, tetapi dengan memutus mata rantai kehidupan—pekerjaan, relasi, dan masa depan. Inilah wajah kekuasaan yang paling dingin: menghancurkan tanpa suara.

 

Hari ini, polarisasi, monopoli, dan feodalisme bukan lagi istilah akademik. Ia hidup di sekitar kita, mengatur siapa yang boleh bicara, siapa yang harus diam. Mereka yang dituakan, yang dianggap memiliki “tuah”, telah menyatu dengan baju penguasa. Akibatnya, generasi muda kehilangan kompas. Bukan karena tak mampu, tetapi karena ruang sengaja ditutup.

 

Harga diri Sijunjung sedang diuji di hadapan Sumatera Barat. Pembangunan berjalan di tempat, perubahan hanya slogan. Visi Sijunjung Madani menguap dalam seremoni dan perayaan, tenggelam di balik panggung-panggung besar yang megah namun hampa makna bagi kehidupan rakyatnya.

 

Kita perlu jujur pada diri sendiri:

Kekuasaan hari ini dirancang agar tidak pernah benar-benar berpindah. Pemimpin lahir dari rahim yang sama, dengan watak dan tabiat yang sama, agar sistem tetap aman dari gangguan. Kaum muda dibiarkan sibuk, lelah, dan saling curiga tanpa kesempatan menentukan arah.

 

Ketika tongkat adat dan kupiah ulama telah larut dalam arus politik praktis, maka nilai kehilangan penopangnya. Yang tersisa hanyalah simbol, tanpa keberanian moral untuk berdiri di luar kekuasaan.

 

Kini Sijunjung tidak sedang menunggu masa depan kita sedang menunggu keputusan.

 

Tetap diam dan mati perlahan bersama sistem yang menua, atau sadar, bersatu, dan melawan demi masa depan yang layak diwariskan.

 

Pilihan itu tidak akan datang dari mereka di atas. Pilihan itu hanya mungkin lahir dari keberanian kita sendiri.


*). Oleh: Chris Gangga Lala Pari 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar